Suara Klakson di Victoria

Victoria adalah sebuah wilayah atau Negara bagian dengan penduduk terbanyak di Australia. Ibu kota Victoria adalah Melbourne. Selama beberapa minggu saya di sini, baru dua atau tiga kali saya mendengar suara klakson, hal inilah yang membuat saya tertarik untuk membuat tulisan ini padahal dari informasi yang saya dengar tidak ada larangan untuk membunyikan klakson. Jika dibandingkan dengan suasana di tempat kita, ambil saja contohnya di jembatan Lamnyong terutama pada pagi atau sore hari, pada saat mahasiswa berangkat atau pulang kuliah, di simpang gallon, simpang Lampriet dan simpang-simpang lain di banda aceh, hampir setiap detiknya kita mendengar suara klakson. Jangankan di simpang-simpang, di jalan luruspun sering kita dengar suara klakson yang bersahut-sahutan yang membuat lalu lintas di tempat kita terasa begitu bising. Parahnya lagi, kadang-kadang suara klakson tersebut disertai dengan sorot mata yang tajam dari pengemudinya bahkan sambil mengeluarkan kata-kata yang kasar. Suara klakson semakin ramai terdengar pada saat pertukaran dari lampu merah ke lampu hijau, seolah-olah untuk memberitahukan bahwa lampu sudah hijau.

Di Australia, suasana seperti gambaran di atas hampir tidak mungkin kita jumpai. Jangankan itu, orang ngebut atau saling mendahului pun tidak ada, apalagi sampai menerobos lampu merah, padahal kita tidak pernah melihat ada polisi lalu lintas yang berjaga-jaga di simpang lampu merah sebagaimana yang kita lihat di tempat kita. Apabila ada yang menerobos lampu merah atau memacu kendaraan melebihi kecepatan yang ditentukan, maka tunggu saja polisi akan segera mengejar mereka. Di titik-titik tertentu dipasang kamera untuk memantau laju lalu lintas. Dengan bantuan kamera inilah sehingga tidak perlu ada personel polisi yang berjaga di pinggir atau di simpang-simpang jalan.

Transportasi utama di Victoria adalah bus, tram (baca: trem) dan train (kereta api), sehingga orang kaya dan orang kantoran pun biasanya naik ketiga jenis kendaraan di atas. Mobil pribadi memang banyak tetapi tidak sering digunakan untuk ke kantor atau ke tempat belanja, alasan utamanya adalah karena system transportasi umum yang baik dan memadai serta karena mahalnya biaya parkir. Di kota ini juga tidak akan kita temukan angkot alias labi-labi, bahkan taksi dan sepeda motor juga sangat-sangat jarang kita jumpai. Bus dan kereta api tentu tidak asing lagi bagi kita, kita sangat mengenal kedua jenis alat transportasi ini, walaupun sampai saat ini kereta api belum ada di daerah kita tercinta yaitu Aceh. Kemudian bagaimana dengan tram? Tram adalah kendaraan setengah kereta api dan setengah bus (menurut saya). Pada dasarnya, tram lebih mirip kereta api, dia punya rel sendiri, terpisah dari bus dan terpisah dah kerata api. Tram dioperasikan dengan memakai tenaga listrik seperti kebanyakan kereta api sekarang. Namun demikian, panjang tram itu hanya kira-kira dua kali panjang bus, dan tempat berhentinya juga seperti tempat pemberhentian bus (tidak ada stasiun khusus seperti kereta api). Untuk tempat pemberhentian bus dan tram, mereka punya tempat pemberhentian khusus (halte). Kalau kita mau naik bus atau tram maka kita harus tunggu di halte. Setiap halte punya nomor sendiri, dan disitu kita bisa lihat jadwal bus serta route perjalanannya. Jadi, kita tidak boleh naik dan turun di sembarang tempat.

Di setiap bus dan tram ada tempat khusus untuk orang tua, cacat, dan wanita hamil. Tempat ini biasaya terletak di depan dan ada tulisan priority seat disertai dengan gambar ketiga orang di atas (yaitu tempat duduk yang diprioritaskan untuk orang tua , cacat dan wanita hamil). Di tempat ini kursinya bisa di lipat untuk memberikan ruang yang lebih lebar kalau ada orang yg memakai kursi roda.

Transportasi di sini sangat mudah, kita hanya perlu membeli tiket. Kita bisa membeli tiket tersebut langsung di atas bus atau di counter-counter khusus. Yang saya ketahui, ada dua jenis tiket di Australia, satu namanya Myki card dan satu lagi namanya Metlink card atau metcard. Beda yang sangat mendasar adalah pada system penggunaannya. Myki card cukup di dekatkan saja ke sebuah mesin pemindai di dalam bus atau tram, dan tunggu ada bunyi klik dan itu artinya kartu kita sudah terindentifikasi. Sementara untuk metcard, kita harus memasukkannya ke dalam sebuah mesin pemindai juga, sama seperti memasukkan kartu atm ke mesin atm, kemudian kartu tersebut keluar lagi.Tiket tersebut bisa berlaku untuk satu hari atau satu bulan, tergantung yang kita pesan, jadi hati-hati jangan sampai hilang. Tapi kabarnya metcard tidak berlaku lagi mulai bulan depan entah apa alasannya, saya juga tidak tahu.Untuk orang Australia disediakan kartu khusus yang dinamakan dengan consession card. Ini merupakan penghargaan buat mereka. Kartu ini lebih murah dan mungkin punya keistimewaan lainnya. Dan ada lagi kartu khusus untuk orang yang sudah pensiun.

Di kota ini juga banyak pejalan kaki, karena dari satu halte ke halte lainnya tentu kita harus jalan. Lalu bagaimana kalau kita mau menyeberang dengan kendaraan yang begitu padat? Jawabannya yaitu tidak usah khawatir, karena di setiap persimpangan disediakan tempat khusus untuk menyeberang bagi pejalan kaki. Jika kita mau menyeberang, maka kita harus menekan sebuah tombol untuk menyebarang. Tombol tersebut terletak disebuah tiang di tiap2 penyeberangan. Begitu kita tekan mungkin kita harus menunggu dulu, nanti setelah keluar tanda lampu hijau yang bergambar orang sedang berjalan dan diiringi dengan suara khas dari lampu tersebut maka kita boleh menyeberang dan tidak satu kendaraan pun yang melintas lagi, jadi jangan takut ketabrak. Kenapa harus ada suara padahal sudah ada tanda untuk menyeberang? Dosen kami menjelaskan bahwa suara tersebut dibuat agar orang buta yang tidak bisa melihat lampu tersebut dapat mengetahui waktu untuk menyeberang dari suara tersebut.

Demikianlah gambaran singkat tentang system transportasi di Australia, terutama di Victoria. Semuanya dikelola dengan sangat baik dan teratur. Sangat jarang terjadi kemacetan. Semoga di masa yang akan datang Negara kita tercinta dapat membangun transportasi seperti ini dan kalau bisa lebih baik lagi. Amiin.

0 comments: